60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan

12 hours ago 10

loading...

Pemerintah Brasil secara tegas menolak sanksi tarif impor baru yang dijatuhkan Washington terhadap negaranya dan 59 negara lainnya atas tuduhan penegakan hukum kerja paksa (forced labor) yang lemah. Foto/Dok

JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Brasil berada di titik didih. Pemerintah Brasil secara tegas menolak sanksi tarif impor baru yang dijatuhkan Washington terhadap negaranya dan 59 negara lainnya atas tuduhan penegakan hukum kerja paksa (forced labor) yang lemah.

Brasil menyebut manuver Gedung Putih tersebut sebagai tindakan yang "arbitrer, sewenang-wenang, dan tidak berdasar." Sanksi anyar yang disahkan Perwakilan Perdagangan AS (USTR) tersebut mematok tarif sebesar 12,5% untuk seluruh produk ekspor Brasil yang masuk ke pasar Amerika Serikat dan dijadwalkan berlaku efektif mulai Jumat ini.

Baca Juga: Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%

"Karena tidak memiliki dasar hukum domestik untuk mendukung kebijakan perdagangan proteksionisnya, USTR memilih untuk memanipulasi isu yang sangat penting bagi hak asasi manusia dan hak-hak pekerja," tegas Pemerintah Brasil dalam pernyataan resminya, Kamis (23/7).

Brasil Siap Seret AS ke WTO

Tidak tinggal diam, pemerintah Brasil mengumumkan akan segera mengaktifkan instrumen balasan berdasarkan Undang-Undang Timbal Balik (Reciprocity Law) nasional mereka. Selain itu, Brasil siap menyeret Amerika Serikat ke mekanisme penyelesaian sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Langkah agresif Washington ini makin menekan posisi ekonomi Brasil, mengingat pekan lalu pemerintahan Donald Trump telah lebih dulu mengenakan tarif khusus 25% terhadap berbagai produk unggulan Brasil atas tuduhan praktik perdagangan tidak sehat. Kemudian AS menambahkan tarif baru 12,5% yang mengaitkannya dengan isu kerja paksa.

"Kami Terbuka Negosiasi, Tapi Pasar Lain Masih banyak!" ujar Presiden Lula da Silva.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |