Ayat Al-Qur'an tentang Perang Badar dalam Seremoni Pemakaman Khamenei, Pujian atau Ejekan untuk Arab Saudi?

16 hours ago 8

loading...

Delegasi dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi memberikan penghormatan kepada almarhum mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Foto/Tangkapan layar/Situs Web Resmi Ayatollah Khamenei

TEHERAN - Ketika delegasi Kerajaan Arab Saudi melangkah maju untuk memberikan penghormatan pada peti jenazah almarhum mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Grand Mosalla Teheran, pembacaan Al-Quran yang mengikutinya tidak luput dari perhatian banyak pelayat.

Menurut laporan Middle East Eye, Minggu (5/7/2026), Al-Qur'an yang dibacakan tersebut adalah Surah Al Imran 3:13. Ini adalah ayat yang menggambarkan Perang Badar, di mana pasukan Muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit dan perlengkapannya buruk mengalahkan pasukan yang jauh lebih besar atas kehendak Allah. Ini jelas merujuk pada apa yang semakin banyak orang sebut sebagai kemenangan Iran dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Baca Juga: Raja Salman dan Mohammed bin Salman Sampaikan Belasungkawa Meski Tak Melayat untuk Khamenei

Perang Badar terjadi di wilayah yang sekarang menjadi Arab Saudi pada tahun 624 M. Pertanyaannya adalah apakah pembacaan ayat tersebut merupakan pujian, ejekan, atau keduanya—tetapi kemungkinan besar itu bukanlah kebetulan.

Jika ditafsirkan secara luas, ayat tersebut mengisyaratkan salah satu kemenangan pertama Islam dan kenangan peradaban bersama antara Teheran dan Riyadh.

Para analis Timur Tengah dan Barat menyatakan Iran tidak hanya selamat dari perang tersebut, tetapi bisa dibilang, mungkin muncul lebih kuat, dengan kendali atas Selat Hormuz yang kini semakin dekat untuk menjadi kenyataan.

Namun, Arab Saudi tetap diam-diam bersekutu dengan AS selama perang dan, menurut beberapa laporan media regional dan AS, bahkan secara diam-diam menyerang Iran.

Jika dibaca dalam konteks tersebut, ayat itu menjadi lebih tajam. Riyadh tetap berada di pinggir lapangan atau, menurut laporan-laporan tersebut, bertindak melawan Iran, sementara Israel berusaha untuk menjerumuskan kawasan itu ke dalam kehancuran.

Sementara itu, Iran berjuang dan bertahan melawan musuh-musuh Teheran dan, secara tidak langsung, siapa pun yang berdiri terlalu dekat dengan mereka.

Perwakilan Arab Saudi bukanlah satu-satunya yang hadir, tetapi salah satu dari lebih dari 30 delegasi negara yang datang untuk memberikan penghormatan kepada almarhum Khamenei.

Daftar tokoh penting tersebut menawarkan Iran pertunjukan kekuatan tersendiri, menandakan bahwa negara itu masih jauh dari terisolasi seperti yang diinginkan AS atau Israel.

Khamenei (86) dibunuh pada 28 Februari dalam serangan Israel-AS di kediamannya di pusat Teheran. Serangan itu juga menewaskan cucunya yang berusia 14 bulan, menantu laki-laki, dan menantu perempuannya.

Jenazahnya disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla Teheran, kompleks ibadah terbesar di negara itu dan tempat untuk acara kenegaraan besar.

Pemakaman itu bukan hanya bersifat keagamaan, tetapi juga merupakan teater kenegaraan. Iran menggunakannya untuk memberi tahu publiknya sendiri bahwa negara masih dapat menyatukan bangsa dalam kemenangan dan kesedihan; untuk meyakinkan sekutu bahwa Teheran tidak menyerah; untuk menunjukkan kepada kekuatan besar bahwa mereka belum hancur; dan untuk mengingatkan para rival bahwa mereka terus menghitung skor.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |