BI Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Rupiah yang Sempat Rp18 Ribu per Dolar AS

5 hours ago 13

loading...

irektur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, bahwa gejolak yang dialami mata uang Garuda erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed. Foto/Dok

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) angkat bicara tentang dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang sempat menembus level psikologis baru yakni Rp18.000 per dolar AS. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, bahwa gejolak yang dialami mata uang Garuda erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed.

Sebagai catatan, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni lalu, The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 3,5% hingga 3,75%. Namun kepanikan pasar dipicu oleh munculnya sinyal kuat dari sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan bahwa suku bunga acuan masih berpotensi naik ke depan.

Kondisi tersebut memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) secara drastis hingga mematahkan rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir. Jika pada Januari 2026 indeks DXY masih nangkring di level 95, maka pada akhir Juni posisinya melonjak ke level 101.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah, Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS

"Jadi, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US dollar," kata Denny saat ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (7/7/2026).

Adapun pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), nilai uang rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat tipis 0,08% ke posisi Rp17.950 per dolar AS. Meski demikian, secara pergerakan harian (intraday), mata uang AS tersebut sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.009 pada sekitar pukul 14.12 WIB.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |