loading...
Jamal Wiwoho, Dosen S3 Ilmu Hukum FH Universitas Sebelas Maret/ Rektor UNS 2019-2024. Foto: Istimewa
Jamal Wiwoho
Dosen S3 Ilmu Hukum FH Universitas Sebelas Maret/ Rektor UNS 2019-2024
SETIAP 9 September kita memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Namun, Haornas semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, pemberian penghargaan, atau perayaan keberhasilan para atlet. Lebih dari itu, Haornas adalah momentum untuk bertanya; olahraga macam apa yang sedang kita bangun, dan bangsa macam apa yang tercermin darinya?
Olahraga pada hakikatnya bukan sekadar persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di balik pertandingan terdapat nilai moral, etika, disiplin, kejujuran, kerja keras, penghormatan kepada lawan dan kesediaan menerima kekalahan. Karena itu, kualitas olahraga dapat menjadi salah satu ukuran kualitas peradaban sebuah bangsa.
Bangsa yang beradab bukan hanya bangsa yang mampu melahirkan juara, tetapi bangsa yang mampu melahirkan juara yang jujur, sportif dan bermartabat.
Moral di balik prestasi
Prestasi olahraga tentu penting. Medali emas, kemenangan tim nasonal, rekor dunia dan prestasi atlet di arena internasional menjadi kebanggaan nasional. Ketika bendera Merah Putih dikibarkan dan lagu kebangsaan kIndonesia Raya berkumandang di arena olahraga dunia, jutaan rakyat merasakan kebersamaan sebagai satu bangsa.
Tetapi prestasi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Apa artinya kemenangan jika diperoleh melalui kecurangan? Apa makna medali jika diraih dengan doping? Apa arti popularitas jika atlet, pelatih, pengurus atau bahkan suporter mengabaikan etika? Di sinilah moral menjadi fondasi olahraga.
Olahraga mengajarkan bahwa cara mencapai kemenangan sama pentingnya dengan kemenangan itu sendiri. Seorang atlet boleh kalah dalam pertandingan, tetapi tidak boleh kalah dalam kejujuran. Ia boleh gagal memperoleh medali, tetapi tidak boleh kehilangan martabat. Karena itu, pendidikan olahraga sejatinya adalah pendidikan karakter bangsa.
Fair play sebagai etika peradaban
Istilah fair play sering kita dengar, tetapi belum tentu selalu kita praktikkan. Fair play bukan sekadar mematuhi aturan pertandingan. Ia merupakan sikap menghormati lawan, wasit, penonton, aturan dan proses kompetisi.
Dalam pertandingan, lawan bukan musuh yang harus dihancurkan, melainkan mitra yang memungkinkan kita menunjukkan kemampuan terbaik. Wasit bukan penghalang kemenangan, melainkan penjaga aturan yang baku. Kekalahan bukan kehinaan, melainkan bagian dari proses pembelajaran dan kemenangan yang tertunda.
Jika nilai-nilai tersebut benar-benar tertanam, olahraga sesungguhnya sedang mengajarkan demokrasi dalam bentuk yang paling sederhana: ada aturan, ada hak dan kewajiban, ada persaingan, ada kemenangan, ada kekalahan, dan semuanya harus diterima secara adil dan objektif. Bukankah prinsip itu pula yang seharusnya berlaku dalam kehidupan berbangsa?













































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/6459426/original/077990600_1779322681-Apple_Sports_01.jpg)



