Kenapa Bulog Harus Menghentikan Penyerapan Gabah atau Beras Segera?

2 hours ago 3

loading...

Khudori - Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto: Dok Pribadi

Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto/istimewa

Bulog harus menghentikan penyerapan beras, baik dalam bentuk gabah maupun beras. Segera! Ya, segera. Agar kondisi di industri perberasan yang kusut tidak semakin kusut. Agar pelaku usaha, terutama penggilingan dan produsen beras, yang tidak dapat berjualan dengan normal bisa kembali beraktivitas seperti sediakala. Agar pasar, utamanya pasar modern, kembali mendapatkan pasokan beras premium secara memadai seperti semula. Pendek kata ada banyak manfaat ketika BULOG menghentikan penyerapan.

Tentu ada yang penasaran dan bertanya-tanya kenapa BULOG harus menghentikan penyerapan gabah/beras. Apalagi ada embel-embel segera. Bukankah penyerapan beras BULOG per 9 Agustus 2026 baru mencapai 3,621 juta ton dari target 4 juta ton setara beras? Benar. Akan tetapi, target pengadaan 4 juta ton beras bukanlah harga mati. Bukan target yang harus dikejar mati-matian tanpa melihat kondisi pasar. Menjadikan target sebagai sesuatu yang harus dicapai tanpa menimbang pasar adalah salah besar.

BULOG sebagai kepanjangan tangan negara dan pemerintah tugasnya bukan hanya menjaga harga gabah di petani di hulu tidak jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg dan memastikan harga beras di konsumen di hilir tidak melampaui harga eceran tertinggi (HET) di tiga zona yang ditetapkan. Lebih dari itu, BULOG harus bertindak sebagai katalis yang menjamin para pelaku usaha yang bergerak di tengah tetap bisa bekerja dan berfungsi dengan baik. Ingat, sebesar-besarnya beras yang ditataniagakan BULOG, porsinya paling sekitar 15%. Sisanya dihandel swasta.

Di hulu, seperti dicatat Sensus Pertanian 2023, jumlah petani padi mencapai 11,59 juta (40,78%) dari 28,419 juta rumah tangga petani. Di hilir, karena tingkat partisipasi konsumsi beras hampir 100%, berarti seluruh penduduk Indonesia yang sebesar 287 juta jiwa menyantap beras. Baik di hulu maupun di hilir, jumlahnya besar. Akan tetapi, pelaku usaha di tengah, mulai dari tengkulak, penggilingan, produsen beras, pedagang grosir, distributor hingga pedagang eceran, jumlah mereka juga tidak kecil. Penggilingan padi saja mencapai 170-an ribu unit.

Menjaga harmoni hulu-tengah-hilir adalah salah satu tugas penting BULOG. Yang terjadi saat ini, harmoni itu terusik. Terutama sejak BULOG ditargetkan menyerap gabah/beras dalam jumlah besar sejak tahun 2025. Tahun lalu, BULOG ditargetkan menyerap 3 juta ton setara beras. Tercapai 3,437 juta ton beras. Barangkali karena capaian itu target tahun ini dinaikkan. Tak cukup memberi target penyerapan dalam jumlah besar, BULOG sepertinya "dikondisikan" harus mengejar agar target tercapai.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |