Pemimpin Makan Paling Akhir

8 hours ago 9

loading...

Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Founder Insani Leadership dan Dai Dompet Dhuafa). Foto dok Dompet Dhuafa

Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership dan Dai Dompet Dhuafa)

“Leaders Eat Last”, demikian judul buku New York Times Best Seller yang ditulis Simon Sinek. Dalam buku tersebut, Simon menulis prinsip dan seni kepemimpinan. Pada masa-masa perjuangan sebuah perusahaan atau organisasi, pemimpin adalah orang yang paling depan menghadang bahaya. Ia mengesampingkan kepentingan dirinya demi melindungi timnya. Pemimpin yang sigap mengorbankan miliknya demi menyelamatkan milik timnya. Ia tidak akan pernah mengorbankan timnya demi menyelamatkan dirinya.

Kemudian, ketika perusahaan atau organisasi telah mencapai kesuksesan, maka pemimpin adalah orang paling terakhir yang menikmati kesuksesan itu. Ia memastikan dulu timnya merasakan kesejahteraan, barulah dia merasakannya. Dengan ungkapan lain, pemimpin makan paling terakhir. Demikian tulis Simon Sinek dalam bukunya.

Saya tidak tahu apakah Simon Sinek sempat membaca Sirah Nabawiyah? Sepertinya tidak. Namun demikian, apa yang ditulis Simon dalam bukunya itu telah diajarkan dan diteladankan Rasulullah jauh empat belas abad lalu. Hanya, kita yang rabun dalam membaca Sirah Nabawiyah. Kita sekadar membaca tanpa merenungkan dan mengambil pelajaran.

Kita tidak paham framework (kerangka berpikir) membaca sirah dan sejarah. Padahal, hal ini sudah dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 111. Kita membaca sirah dan sejarah untuk memetik pelajaran (ibrah). Diksi yang dipilih Al-Qur’an adalah ibrah. Derivasi dari ibrah dalam bentuk isim makan (kata benda yang menunjukan makna tempat) adalah ma’bar. Arti ma’bar adalah jembatan.

Baca juga: 27 Perang yang Diikuti Rasulullah SAW, Ini Fakta dan Etika Perang dalam Islam

Kita paham fungsi jembatan adalah menghubungkan titik awal kepada titik ujung. Demikianlah sejarah laiknya jembatan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang bukanlah satuan waktu yang terpisah. Ia seperti lorong waktu yang terhubung membangun lintasan kehidupan.

Kita bisa menengok ke masa lalu melalui sejarah untuk mengambil pelajaran, memahami pola-pola kehidupan, sebagai tools membaca masa kini dan merekayasa masa depan. Inilah framework membaca dan belajar sirah dan sejarah.

Kembali pada buku Simon, Leaders Eat Last. Jika Anda pembaca Sirah Nabawiyah yang cerdas, maka akan menemukan prinsip kepemimpinan yang ditulis Simon yang telah diajarkan dan diteladankan Rasulullah.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |