Sanad Digital: Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Kepemimpinan Kita

7 hours ago 14

loading...

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Pernahkah Anda nonton ceramah agama di YouTube atau TikTok? Rasanya enak, kan? Bisa dengar nasihat dari ustaz favorit kapan saja, di mana saja. Tapi coba tanya, dari mana ustaz itu belajar? Siapa gurunya? Apakah ilmunya benar-benar bersambung hingga ke sumbernya?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin jarang terpikirkan. Padahal, dalam tradisi Islam, ada yang namanya sanad. Sederhananya, sanad adalah rantai guru-murid yang bersambung hingga ke Rasulullah SAW. Seperti silsilah keluarga, tapi untuk ilmu.

Tanpa sanad, ilmu yang kita terima bisa jadi tidak jelas asal-usulnya. Ibarat beli obat tanpa izin edar, bisa menyembuhkan, tapi bisa juga berbahaya.

Sekarang, kita hidup di era digital. Belajar agama bisa dari ratusan sumber dalam sehari. Sayangnya, kemudahan ini sering membuat kita lupa bertanya, siapa yang menjamin kebenaran ilmu itu?

Lalu, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab? Bukan masyarakat awam. Bukan juga para konten kreator. Tapi para pemimpin pesantren dan lembaga pendidikan Islam.

Merekalah yang memiliki otoritas, sumber daya, dan jaringan untuk memastikan sanad tetap terjaga di era digital.

TikTok bukan masalah, Tapi Cara Kita Memakainya

Saya tidak anti-TikTok. Bukan juga ingin memusuhi YouTube. Teknologi itu alat. Yang jadi masalah adalah ketika kita, baik sebagai pendakwah maupun sebagai pencari ilmu, mengabaikan rantai keilmuan. Seorang santri yang viral karena konten lucu baca kitab bisa ditonton jutaan orang. Tapi ketika ditanya siapa gurunya, jawabnya: "Belajar otodidak, dari YouTube."

Ini bukan cerita fiksi. Ini kejadian nyata. Dan ini cukup mengkhawatirkan.

Bukan karena belajar otodidak itu salah. Tapi untuk ilmu agama yang jadi pegangan hidup, kita butuh lebih dari sekadar konten menghibur.

Kita butuh guru yang membimbing, mengoreksi, dan memberi izin.

Ibarat belajar menyetir, Anda bisa nonton video cara nyetir di YouTube, tapi tetap butuh instruktur di samping Anda. Apalagi untuk urusan akhirat.

Di pesantren, proses ini disebut talaqqi, belajar langsung dari guru, tatap muka, saling melihat. Ini bukan soal kuno atau modern. Ini soal jaminan kualitas.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |