Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia

4 hours ago 4

loading...

Ahmad Dumyathi Bashori. Foto: Istimewa

Ahmad Dumyathi Bashori
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok

KONFLIK bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat menarik perhatian dunia. Di balik perdebatan mengenai politik Timur Tengah, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan oleh bangsa Indonesia: bagaimana sebuah negara yang selama lebih dari empat dekade menghadapi sanksi ekonomi, embargo teknologi, tekanan diplomatik, dan ancaman militer tetap mampu bertahan, mengembangkan teknologi strategis, serta mempertahankan kohesi sosialnya?

Tentu Indonesia tidak harus meniru sistem politik Iran. Namun dalam konteks pembangunan nasional, terdapat sejumlah pelajaran yang layak dikaji secara objektif. Iran menunjukkan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau besarnya anggaran negara, melainkan oleh kemampuan membangun manusia, mengembangkan teknologi, dan menjaga solidaritas sosial secara berkelanjutan.

Pendidikan dan STEM, Investasi Jangka Panjang

Ketika dunia melihat kemampuan Iran mengembangkan drone, sistem rudal, teknologi satelit, hingga industri farmasi dalam negeri, yang sebenarnya sedang terlihat adalah hasil investasi pendidikan yang berlangsung puluhan tahun.

Keberhasilan Iran membangun kapasitas teknologi tidak lahir secara tiba-tiba. Selama beberapa dekade terakhir, negara itu secara konsisten mendorong pendidikan sains dan teknik sebagai bagian dari strategi nasional. Data UNESCO dan World Intellectual Property Organization (WIPO) menunjukkan bahwa sekitar 35 persen lulusan perguruan tinggi Iran berasal dari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), menempatkan Iran di kelompok negara dengan proporsi lulusan STEM tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, rata-rata negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) memiliki proporsi lulusan STEM di bawah 25 persen.

Dominasi bidang teknik bahkan lebih mencolok. Menurut Royal Academy of Engineering Inggris, Iran memiliki salah satu proporsi lulusan teknik, manufaktur, dan konstruksi tertinggi di dunia, sekitar 30 persen dari total lulusan pendidikan tinggi. Angka tersebut mencerminkan orientasi pembangunan yang secara sadar menempatkan insinyur, ilmuwan, dan tenaga teknis sebagai aset strategis negara.

Dampaknya terlihat pada kapasitas inovasi nasional. Pada 2016, Iran menghasilkan sekitar 335.000 lulusan STEM dalam satu tahun, menempatkannya di antara negara-negara dengan jumlah lulusan STEM terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Rusia. Menariknya, capaian tersebut diraih di tengah berbagai keterbatasan akibat sanksi internasional dan akses teknologi yang dibatasi.

Data UNESCO menunjukkan tingkat literasi Iran meningkat dari sekitar 37 persen pada 1976 menjadi mendekati 90 persen saat ini. Untuk kelompok usia muda, angka literasi mencapai lebih dari 98 persen. Iran juga menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan publikasi ilmiah tercepat di dunia selama dua dekade terakhir, khususnya pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Pelajaran ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang saat ini sedang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut seharusnya tidak dipahami semata sebagai kebijakan kesejahteraan, tetapi sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang. Indonesia memiliki sekitar 53 juta peserta didik dan lebih dari 9 juta mahasiswa, salah satu populasi pelajar terbesar di dunia.

Namun tantangan terbesar bukan lagi akses pendidikan, melainkan kualitas dan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masa depan. Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka keberhasilan MBG harus diikuti oleh lompatan besar dalam pendidikan STEM, riset, kecerdasan buatan, semikonduktor, teknologi digital, manufaktur maju, dan inovasi industri. Sebab sejarah menunjukkan bahwa negara yang menguasai teknologi tidak selalu negara yang paling kaya sumber daya alam, melainkan negara yang paling serius membangun manusianya.

Dalam konteks ini, program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo sesungguhnya memiliki makna strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar program bantuan sosial. Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa kecukupan gizi pada usia dini berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |