Mammora Bantu Perempuan Kenali Gejala Kanker Payudara, Fitur Ini yang Membuatnya Berbeda

11 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Teknologi kesehatan kini semakin dekat dengan kebutuhan sehari-hari, dan sangat melekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya terlihat dari Mammora.

Aplikasi Mammora, dibuat oleh Patricia Putri Artsyani, alumni Apple Developer Academy dan saat ini menjadi salah satu peserta Apple Developer Institute di Jakarta.

Ia menjelaskan, aplikasi ini dikembangkan untuk membantu perempuan melakukan pemeriksaan sendiri atau Sadari secara lebih mudah dan terarah.

Patricia juga mengatakan, ide aplikasi ini berangkat dari pengalaman personal salah satu anggota tim. Ia menyebut, salah satu rekannya pernah menjalani operasi tumor payudara pada usia muda.

“Mammora itu adalah aplikasi untuk membantu perempuan melakukan pemeriksaan sendiri atau Sadari. Sadari sendiri punya prosedur sendiri dan disarankan dilakukan setiap bulan oleh perempuan yang sudah menstruasi,” kata Patricia saat ditemui di Apple Developer Institute di Jakarta baru-baru ini.

Berkaca dari pengalaman tersebut, akhirnya saya dan tim Mammora memutuskan untuk membuat aplikasi yang mampu membantu lebih banyak perempuan agar bisa mengenali gejala lebih awal.

“Dari pengalaman orang sekitar kami itulah akhirnya terinspirasi untuk membantu perempuan lain supaya mereka bisa sadar lebih dulu terhadap gejala kanker payudara,” ujar Patricia.

Mammora Bantu Jawab Kebingungan soal Sadari

Patricia menuturkan, aplikasi ini dikembangkan untuk menjawab berbagai miskonsepsi yang masih sering muncul soal Sadari. Menurutnya, banyak perempuan belum tahu cara pemeriksaan yang benar, bagian mana saja yang perlu dicek, dan kapan waktu terbaik untuk melakukannya.

“Banyak yang mengira itu Sadari hanya mencari benjolan. Padahal lebih dari itu. Kita juga harus mengetahui bila ada perubahan visual lain yang juga bisa menjadi tanda awal,” ucapnya.

Di dalam aplikasi, pemeriksaan dibagi menjadi dua tahap, yakni pemeriksaan visual dan pemeriksaan sentuhan. “Kita bisa periksa secara visual di depan kaca untuk melihat perubahan yang tampak pada payudara, seperti kerutan, perbedaan tekstur, atau perubahan warna.

Sementara pemeriksaan sentuhan, dilakukan dengan posisi berbaring dan mengikuti teknik tertentu. “Mammora akan membantu pengguna mengikuti langkah mengacu panduan kesehatan, termasuk WHO dan Kementrian Kesehatan,” jelasnya.

Fitur Pengingat Sadari Sesuai Siklus Menstruasi

Aplikasi Mammora di App Store. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Mammora dilengkapi dengan fitur notifikasi yang akan mengingatkan pengguna untuk melakukan pemeriksaan sesuai dengan siklus menstruasi.

“Tak hanya itu, pengguna juga bisa memasukkan data menstruasi secara manual atau menghubungkannya dengan aplikasi Health di iPhone yang sudah memiliki fitur cycle tracking,” jelasnya.

Dari data tersebut, Mammora akan merekomendasikan waktu terbaik untuk melakukan Sadari, yaitu hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama menstruasi.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga memberi pengingat beberapa hari sebelum jadwal pemeriksaan. Saat hari pemeriksaan tiba, pengguna akan mendapat penanda hari tersebut merupakan waktu terbaik untuk melakukan Sadari.

Mammora juga menyediakan laporan setelah pengguna menyelesaikan pemeriksaan. Jika tidak ada gejala, aplikasi akan menyarankan pengguna untuk kembali memantau kondisi pada pemeriksaan berikutnya.

Tapi bila menemukan gejala, mereka bisa menandai lokasi temuan tersebut pada model 3D di aplikasi. Datanya akan tersimpan dalam laporan, dan bisa digunakan ketika pengguna konsultasi dengan dokter.

“Kalau menemukan satu gejala, pengguna bisa menandai langsung di model 3D di lokasi mereka menemukannya. Nanti bisa di report akan terlihat lokasinya. Jadi jika ke dokter, mereka bisa menunjukkan ‘ada di sini nih dok’,” ujar Patricia.

Ia menambahkan, “setiap bulan datanya ada. Kalau bulan pertama ada, lalu bulan kedua hilang, itu terlihat di report dalam aplikasi.”

Konsultasi dan Dapat Masukan dari Dokter

 Unsplash/Angiola Harry)

Dalam pengembangannya, Patricia dan tim bekerja sama dengan dokter bedah umum di Jakarta. Ia mengatakan, salah satu masukan penting dari dokter adalah soal penggunaan bahasa di aplikasi.

“Awalnya, kalau kami mengikuti istilah simptom atau deskripsi tertentu, kata-katanya bisa rawan, bisa disalah artikan, atau membuat takut,” katanya.

“Karenanya, kami disarankan untuk ubah penggunaan kata-kata supaya perempuan yang mengecek bisa mengerti, dan dari sisi dokter juga tetap umum digunakan,” jelas Patricia.

Ke depan, Mammora ingin memperluas dampaknya. Patricia mengatakan, tujuan besar aplikasi ini adalah membantu menurunkan risiko kematian akibat kanker payudara melalui deteksi lebih awal.

Ia menilai, banyak kasus kanker payudara di Indonesia masih ditemukan pada stadium lanjut. Kondisi itu membuat peluang penanganan menjadi lebih berat.

Langkah kecil yang kami lakukan adalah berkolaborasi untuk mengedukasi tentang Sadari ke berbagai usia perempuan. Dari yang muda dulu, lalu mereka bisa mengajarkan ke orang tuanya. Jadi circle of awareness Sadari bisa diperluas,” kata Patricia.

Belum Kerja Sama dengan Kemenkes

ilustrasi perempuan pagi hari/Photo by JD Chow on Unsplash

Terkait peluang kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, Patricia mengatakan Mammora belum sampai ke tahap tersebut. Namun, tim memiliki rencana untuk menjajaki kolaborasi yang lebih besar di masa depan.

Untuk saat ini, Mammora masih fokus membangun bukti dampak dari kolaborasi kecil yang sudah berjalan.

“Sampai Kemenkes sih belum. Sekarang kami masih mencoba mengumpulkan bukti bahwa kami benar-benar bisa berdampak lewat partnership kecil dulu. Semoga nanti bisa sampai ke Kemenkes juga,” pungkas Patricia.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |