Mendorong Industri Asuransi Perkuat Underwriting Berbasis Data Hadapi Kompleksitas Risiko Kesehatan

17 hours ago 15

loading...

Ketua PERUJI yang juga menjabat sebagai Director Life and Health Business PT Indoperkasa Suksesjaya Reasuransi (INARE), Dessy Kusumayati menegaskan bahwa underwriting perlu dipandang sebagai sebuah perjalanan yang semakin terintegrasi. Foto/Dok

JAKARTA - Kompleksitas risiko kesehatan dan kebutuhan pengambilan keputusan berbasis data mendorong industri asuransi memperkuat fungsi underwriting. Menjawab kebutuhan, Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (PERUJI) kembali menggelar Indonesia Underwriting Summit (IUS) 2026 pada 9-10 September 2026 di Trans Luxury Hotel, Surabaya, dengan mengusung tema “Integrated Underwriting Journey – Data, Discipline, Decision”.

Terkait perkembangan tersebut, Ketua PERUJI yang juga menjabat sebagai Director Life and Health Business PT Indoperkasa Suksesjaya Reasuransi (INARE), Dessy Kusumayati menegaskan bahwa underwriting perlu dipandang sebagai sebuah perjalanan yang semakin terintegrasi. Menurutnya, perubahan kebutuhan industri menuntut underwriter tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga menggabungkan kualitas data, disiplin proses, dan kemampuan mengambil keputusan.

Lebih lanjut Dessy menegaskan, underwriter masa kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai risk selector, melainkan harus mampu menjadi strategic business partner yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas portofolio, pengalaman nasabah, tata kelola risiko, dan keberlanjutan profitabilitas perusahaan. Melalui IUS 2026, PERUJI ingin mendorong pertukaran pengalaman, pembelajaran praktis, dan kolaborasi agar para underwriter semakin siap menghadapi perubahan risiko dan kebutuhan industri.

Baca Juga: Tips MotionTrade: Ketahui Fungsi Underwriter dalam IPO

Perkembangan teknologi juga perlu ditempatkan sebagai pendukung profesi underwriter. Teknologi dan data dapat membantu mempercepat proses, membaca pola, meningkatkan konsistensi, dan mengurangi pekerjaan repetitif. Namun, judgement, accountability, ethics, dan responsibility tetap berada pada manusia. “Teknologi harus kita jadikan teman, bukan ancaman,” tegas dr. Dessy.

Underwriting sebagai Gawang Awal Pengelolaan Risiko

Pentingnya fungsi underwriting juga menjadi perhatian regulator. Dalam keynote address pada IUS 2026, Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Iwan Pasila menyoroti besarnya skala industri yang perlu dikawal melalui proses seleksi risiko yang tepat.

Berdasarkan data OJK per Juli 2026, total aset sektor PPDP mencapai Rp2.964,56 triliun dengan total investasi sebesar Rp2.276,91 triliun. Pada periode yang sama, Risk-Based Capital (RBC) Asuransi Jiwa tercatat sebesar 455,23%, sedangkan RBC Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar 322,01%. Materi OJK juga menunjukkan target aset asuransi terhadap PDB sebesar 20% pada 2045, dibandingkan 9,1% pada 2025.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |