loading...
Ketua FSI Johanes Herlijanto, Sekretaris Aspertina Budiman Tanah Djaya, Direktur Komunikasi dan Kajian Strategis Gentala Institute Christine Susanna Tjhin, Dosen President University M Farid, dan Peneliti Utama BRIN Thung Julan di Jakarta. Foto: Ist
JAKARTA - Meski merupakan keturunan dari para pendatang yang berasal dari daratan Tiongkok , orang-orang Tionghoa di Indonesia telah mengalami proses adaptasi dan akulturasi dengan masyarakat yang berlatar belakang etnik lain di Nusantara selama ratusan tahun.
Karenanya, kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki khas keindonesiaan, sehingga tidak bisa dianggap sama dengan budaya yang berkembang di daratan Tiongkok. Identitas entik dari orang Tionghoa Indonesia pun berbeda bukan hanya dari orang-orang di daratan Tiongkok, tetapi bahkan dari kelompok Tionghoa yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Dari segi politik, orang-orang Tionghoa telah memilih menjadi Indonesia dan oleh karenanya memiliki identitas nasional Indonesia. Pilihan ini merupakan sebuah keputusan politik yang disertai komitmen kuat mewujudkan pilihan menjadi bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Tionghoa Indonesia Tak Sama dengan Migran Baru Asal Tiongkok
Karenanya, di tengah derasnya pengaruh asing dari berbagai penjuru, termasuk dari Barat dan Tiongkok, Tionghoa diimbau tetap mengedepankan keindonesiaan baik sebagai wujud nasionalisme maupun dalam aspek budaya.
Pandangan di atas menjadi kesimpulan dalam acara menyambut Imlek yang diselenggarakan secara bersama oleh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), serta kelompok lintas etnis yang melakukan kajian mengenai hubungan Indonesia Tiongkok dan masyarakat Tionghoa Indonesia, Forum Sinologi Indonesia (FSI).
Acara berjudul “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” itu menghadirkan beberapa tokoh Tionghoa, peneliti, dan akademisi terkemuka yakni Dr Thung Julan, alumni jurusan Sinologi Universitas Indonesia yang kini bertugas sebagai peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN); Christine Susanna Tjhin, pendiri dan direktur komunikasi strategis dan penelitian Gentala Institute; serta Budiman Tanah Djaya, sekretaris Aspertina.
Bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut adalah Muhammad Farid, dosen Hubungan Internasional President University yang juga Sekretaris FSI.
Pemerhati Tiongkok dan masyarakat Tionghoa di Indonesia yang juga Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto mengutip tulisan akademisi kenamaan asal Singapura Profesor Wang Gungwu yang menyatakan Tionghoa di luar Tiongkok memiliki kemampuan untuk selalu beradaptasi dengan masyarakat setempat.
Dosen Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Universitas Pelita Harapan (UPH) itu juga menggarisbawahi pandangan bahwa Tionghoa Indonesia perlu memosisikan diri sebagai Indonesia dalam hubungan dengan pihak-pihak luar. “Sepanjang sejarah, Tionghoa sudah mengambil posisi tersebut, dan telah mengedepankan keindonesiaan baik dalam aspek budaya maupun identitas politik mereka,” ujar Johanes, Senin (2/3/2026).






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1233197/original/051827400_1463211299-WhatsApp_Web_kirim_dokumen.jpg)











