Piala Dunia 2026 dan Bayang-bayang Jet Pribadi Infantino

7 hours ago 5

loading...

Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi sorotan selama gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada / Foto: Ilustrasi AI

JAKARTA - Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi sorotan selama gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Di tengah padatnya agenda pertandingan, kebiasaannya berpindah kota menggunakan jet pribadi memicu kritik dari aktivis lingkungan yang menilai FIFA tidak konsisten dalam isu perubahan iklim.

Dalam satu pekan, Infantino tercatat menghadiri pertandingan di berbagai kota seperti Kota Meksiko, Guadalajara, Los Angeles, San Francisco, Vancouver, Seattle, Kansas City, hingga Houston. Ia dilaporkan menggunakan jet pribadi Qatar Airways untuk hadir di tribun sekitar 10 kali dalam tujuh hari.

Kebiasaan perjalanan jarak jauh dengan jet pribadi bukan hal baru. Investigasi media Josimar pada 2024 sebelumnya mengungkap bahwa Infantino telah menempuh sekitar 600.000 kilometer menggunakan pesawat tersebut dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Kartu Merah Piala Dunia 2026 Lampaui Edisi 2018 dan 2022

Namun, perluasan format Piala Dunia 2026 yang kini melibatkan 48 tim dan digelar di tiga negara tuan rumah membuat mobilitas tinggi semakin tak terhindarkan. Jumlah pertandingan yang meningkat dari 64 menjadi 104 laga turut memperbesar jejak perjalanan para pejabat FIFA.

Lembaga penilaian jejak karbon asal Prancis, Greenly, menyebut satu jam penerbangan jet pribadi dapat menghasilkan emisi setara dengan rata-rata emisi tahunan satu orang. Jika pola perjalanan Infantino berlanjut hingga akhir turnamen, estimasi emisi dari penerbangannya saja dapat mencapai 300 hingga 500 ton CO₂—setara jejak karbon tahunan 35 hingga 55 orang di Prancis.

FIFA sendiri membela kebijakan perjalanan para eksekutifnya dengan menyatakan bahwa penggunaan penerbangan komersial atau pribadi dipilih berdasarkan efisiensi dan biaya, serta seluruh biaya ditanggung organisasi. Namun, kritik tetap menguat. David Gogishvili, ahli geografi dari Universitas Lausanne, menyebut model penyelenggaraan Piala Dunia saat ini menciptakan "paradoks keberlanjutan", karena ketergantungan pada perjalanan udara beremisi tinggi akibat penyebaran stadion yang sangat luas.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |