Utang Global Cetak Rekor, IMF Desak Pemerintah Segera Bertindak

19 hours ago 18

loading...

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. FOTO/AP News

NEW YORK - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan utang publik global diproyeksikan melampaui 100% produk domestik bruto (PDB) pada 2029 dan mendesak pemerintah di berbagai negara mengambil langkah konkret untuk melakukan konsolidasi fiskal. Lonjakan utang Amerika Serikat (AS) dan China menjadi salah satu pendorong utama peningkatan tersebut, di tengah tekanan inflasi dan biaya utang yang masih tinggi.

"Kami telah memperingatkan bahwa konsolidasi fiskal harus dilakukan, dan kami melihat banyak pemahaman, tetapi belum cukup banyak tindakan," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam Qatar Economic Forum di New York, dikutip dari BigGo Finance, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Tekanan Fiskal Meningkat, IMF Wanti-wanti Ledakan Utang Publik Global

Berdasarkan proyeksi IMF, utang publik global yang pada 2025 berada di sekitar 94% PDB akan meningkat hingga mencapai atau melampaui 100% PDB pada 2029. Proyeksi tersebut menunjukkan tekanan fiskal dunia masih meningkat setelah berbagai negara menghadapi dampak pandemi, gejolak harga energi, serta kebutuhan belanja yang semakin besar.

Georgieva secara khusus menyoroti kondisi fiskal AS dan mengatakan telah terdapat kesepahaman dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahwa kondisi fiskal saat ini tidak berkelanjutan dan AS perlu secara bertahap menurunkan defisit serta utangnya. IMF sebelumnya juga menilai peningkatan utang global terutama didorong oleh negara-negara ekonomi besar.

Di sisi moneter, inflasi yang masih persisten berpotensi membuat sejumlah bank sentral mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah dan memperberat beban pembayaran bunga utang, sehingga ruang fiskal untuk membiayai program pembangunan menjadi semakin terbatas.

IMF juga menyoroti dampak gangguan energi dan transportasi akibat konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian global. Negara-negara pengekspor komoditas seperti Qatar, Kuwait, dan Irak berpotensi mengalami tekanan pertumbuhan apabila gangguan tersebut berlangsung berkepanjangan.

Untuk Qatar, IMF memproyeksikan perekonomian negara tersebut mengalami kontraksi 8,6% pada 2026. Sebelum konflik dengan Iran, IMF sebelumnya memperkirakan ekonomi Qatar tumbuh 6,1%, namun gangguan transportasi dan pasokan energi mengubah prospek tersebut secara signifikan.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |