6 Keunggulan HGV, Senjata Unik China yang Tak Dimiliki Negara Lain

14 hours ago 14

loading...

HGV, senjata unik China yang tak dimiliki negara lain. Foto/X/@Currentreport1

BEIJING - China mengembangkan hypersonic glide vehicle (kendaraan luncur hipersonik) yang mampu meluncurkan senjata udara-ke-udara untuk menyasar target bernilai tinggi—seperti pesawat komando dan kendali—yang berada ribuan mil jauhnya.

Demikian dilaporkan Bloomberg, mengutip seseorang yang mengetahui langsung masalah tersebut. Penambahan baru pada persenjataan Beijing ini muncul di saat AS sedang kesulitan terkait pasokan rudal pertahanan udara dan senjata serangan jarak jauh yang krusial, menyusul perang enam bulan dengan Iran.

Melansir NDTV, senjata ini dapat menjadi ancaman bagi pesawat-pesawat seperti pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara, jet peringatan dini dan kendali lintas udara (airborne early-warning and control), serta pos komando terbang, termasuk pesawat E-4B Nightwatch milik Angkatan Udara AS.

Militer China juga telah menambahkan kemampuan udara-ke-udara pada beberapa rudal jelajah hipersonik dan menyematkan kemampuan anti-kapal pada sejumlah jenis rudal, ungkap seseorang yang mengetahui langsung masalah tersebut kepada Bloomberg.

China adalah satu-satunya negara yang secara terbuka diketahui mengoperasikan dan mengembangkan hypersonic glide vehicle (HGV) yang mampu meluncurkan rudal udara-ke-udara. Perkembangan ini menandai perluasan signifikan dari upaya negara tersebut untuk memanfaatkan persenjataan rudalnya yang terus berkembang—terbesar di dunia dengan lebih dari 3.150 senjata balistik—untuk berbagai misi militer, menurut keterangan sumber-sumber terkait.

Hypersonic glide vehicle (HGV) adalah hulu ledak yang mampu bermanuver di atmosfer dengan kecepatan hipersonik setelah diluncurkan oleh rudal. Kemampuannya untuk bermanuver saat menuju sasaran memperpanjang jangkauan dan menyulitkan upaya intersepsi.

HGV yang diluncurkan dari rudal DF-17 milik China dapat menempuh jarak sekitar 2.414 kilometer; jarak ini sedikit di bawah jarak dari China ke wilayah Guam milik AS, yang merupakan pangkalan militer utama di Samudra Pasifik bagian barat.

Rudal DF-27 milik China yang lebih canggih memiliki perkiraan jangkauan maksimum sekitar 8.000 kilometer, sehingga berpotensi menjangkau sasaran sejauh Hawaii.

Namun, penggunaan senjata yang berasal dari rudal balistik untuk menyerang pesawat yang berada jauh merupakan tindakan yang mahal, sulit, dan berisiko. Saat menempuh jarak maksimum, rudal balistik bisa memakan waktu 20 menit atau lebih untuk mencapai sasaran, sehingga membutuhkan informasi penargetan yang sangat akurat dan terus diperbarui.

Rudal balistik yang menempuh jarak maksimum bisa memakan waktu 20 menit atau lebih untuk mencapai sasaran, sehingga membutuhkan informasi penargetan yang sangat akurat dan terus diperbarui. "Rantai serangan" (*kill chain*) yang panjang—mulai dari perolehan informasi sensor jarak jauh hingga penyampaiannya ke rudal—kabarnya membuat operasi tersebut lebih mudah diganggu.

Ada pula risiko bahwa serangan menggunakan rudal balistik dapat disalahartikan sebagai serangan nuklir. Masalah pembedaan ini, menurut Bloomberg, mempersulit penggunaan senjata tersebut, terutama dalam perang total, karena dapat memicu respons nuklir secara tidak sengaja.

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |