Mengapa Kita Mudah Bermusuhan?

2 hours ago 5

loading...

Rena Latifa - Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Kolegium Psikologi Klinis (Konsil Kesehatan Indonesia). Foto: Dok Pribadi

Rena Latifa
Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Kolegium Psikologi Klinis (Konsil Kesehatan Indonesia)

Seorang pengendara tersulut hanya karena disalip. Rapat organisasi pecah bukan oleh perbedaan program, melainkan oleh perebutan siapa yang paling didengar. Di grup percakapan keluarga, satu komentar politik membuat kerabat saling diam berbulan-bulan. Di media sosial, perdebatan tentang agama, pilihan publik, almamater, profesi, bahkan klub sepak bola dengan cepat bergeser: gagasan tidak lagi diuji, tetapi pribadi dipermalukan, asal-usul diserang, dan seluruh kelompok diberi cap.

Ada pola yang sama dalam semua peristiwa itu. Manusia tidak sekadar berbeda pendapat; kita merasa diri kita sedang dipertaruhkan. Ketika kritik terhadap pandangan berubah menjadi ancaman terhadap harga diri, konflik memperoleh bahan bakar emosional. Ia tidak lagi terutama menyangkut apa yang benar, melainkan siapa yang menang, siapa yang diakui, dan siapa yang harus dibuat lebih rendah.

Mengapa manusia begitu mudah bermusuhan? Jawabannya tidak cukup dicari dalam politik, algoritma media sosial, atau perebutan kekuasaan. Psikologi sosial membantu menjelaskan bagaimana batas “kami” dan “mereka” terbentuk. Psikologi klinis membawa kita lebih dalam: mengapa sebagian orang mampu berbeda tanpa merasa runtuh, sementara sebagian lain harus menyerang untuk memulihkan rasa berharga.

Kita Membutuhkan “Kami”

Henri Tajfel dan John Turner, melalui teori identitas sosial, menjelaskan bahwa konsep diri manusia tidak sepenuhnya individual. Kita mengenali diri melalui berbagai keanggotaan: kebangsaan, agama, daerah, profesi, kampus, komunitas, atau organisasi. Kelompok memberi kita rumah sosial—rasa memiliki, sejarah, nilai, jaringan, dan kebanggaan.

Masalahnya, ketika kategori “kami” terbentuk, kategori “mereka” ikut tersedia. Eksperimen kelompok-minimal Tajfel menunjukkan bahwa pembagian yang nyaris sewenang-wenang pun dapat memunculkan kecenderungan menguntungkan kelompok sendiri. Kita ternyata tidak membutuhkan permusuhan turun-temurun untuk mulai bersikap bias.

Muzafer Sherif menambahkan unsur penting melalui eksperimen Robbers Cave. Ketika dua kelompok ditempatkan dalam kompetisi untuk memperoleh sesuatu yang dianggap terbatas dan bernilai, stereotip serta permusuhan tumbuh dengan cepat. Dengan kata lain, konflik tidak selalu dimulai oleh kebencian. Cukup tersedia identitas kelompok, kompetisi, dan persepsi ancaman.

Itulah sebabnya konflik publik perlu didiagnosis dengan jernih. Yang tampak sebagai pertentangan prinsip kadang sesungguhnya merupakan konflik kepentingan, status, akses, representasi, atau pengakuan. Ketika semua dibungkus sebagai pertarungan moral, kompromi tampak seperti pengkhianatan dan lawan berubah menjadi musuh.

Ketika Kritik Terasa seperti Serangan Terhadap Diri

Identifikasi kelompok yang kuat dapat menipiskan batas antara “saya” dan “kelompok saya”. Kritik terhadap kelompok lalu dialami sebagai kritik terhadap diri. Pada saat itu, orang berhenti bertanya, “Apakah kritik ini mengandung kebenaran?” dan mulai bereaksi, “Berani sekali mereka merendahkan kami.” Bias konfirmasi pun bekerja: kesalahan anggota kelompok sendiri dianggap ulah oknum, sedangkan kesalahan satu anggota kelompok lain dipakai sebagai bukti tentang watak seluruh kelompok.

Di sini perlu dibedakan antara kebanggaan kelompok yang sehat dan apa yang oleh Agnieszka Golec de Zavala dan koleganya disebut narsisisme kolektif: keyakinan berlebihan tentang keistimewaan kelompok sendiri yang disertai tuntutan agar pihak luar terus mengakuinya. Kebanggaan yang sehat tidak memerlukan penghinaan terhadap orang lain. Identitas yang rapuh justru sangat peka terhadap kritik, kurangnya penghormatan, atau keberhasilan kelompok lain.

Karena itu, penampilan superior tidak selalu menandakan rasa aman. Kadang-kadang ia adalah cara menutupi rasa malu, tidak cukup berharga, atau takut kehilangan kedudukan. Semakin seseorang bergantung pada pengakuan eksternal, semakin mahal harga sebuah kritik. Serangan menjadi jalan pintas untuk mengembalikan perasaan berkuasa.

Apa Perspektif Psikologi Klinis?

Read Entire Article
Jatim | Jateng | Apps |